My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 12/2007

December 12, 2007

APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGHADAPI KEGAGALAN 

Calon wirausahawan harus siap gagal. Fahamilah makna kegagalan. Tanpa faham filosofi itu, jangan berpikir mau mengambil jalan menjadi wirausaha. Alasannya, ada yang sukses dalam usahanya, ada yang belum berhasil. Pengusaha mengetahui bahwa ”kegagalan” bukan akhir permainan dan tidak boleh takut mengalaminya. Ia menyadari dengan keberanian, bahwa bisa saja mengatasi sesuatu yang tidak mungkin untuk berhasil.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausahawan. Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental menghadapi kegagalan. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!

Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong pengusaha untuk mencoba pendekatan baru yang belum pemah dicoba sebelumnya. Bagi pengusaha sejati, “Berani Gagal” berarti “Berani Belajar”. Dengan gagal dan dengan belajar, pengusaha bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan belajar bagaimana menciptakan kekayaan sejati. Walaupun pengusaha kehilangan kekayaan materi yang telah mereka peroleh, mereka tahu bagaimana menciptakan semua kekayaan itu lagi. Pelajarannya tidak pemah hilang. Sebaliknya, mereka yang tidak pemah mengalami perjalanan yang sulit dan menemukan kekayaan dengan mudah, tidak akan tahu bagaimana menciptakan kekayaan ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka yang tidak gagal tak akan tahu kekayaan sejati.

Gemerlap materi, pada komunitas bahkan kehidupan sosial yang serba benda (materialistis), lebih banyak memperoleh penilaian tinggi. Sebaliknya, siapa pun mengalami kegagalan, sudah mendapat stempel sosial sebagai manusia yang kehilangan harga. The looser dunia usaha, sering menjadi figur yang menghadapi titik balik sikap sosial terhadapnya. Dulu, saat masih jaya, ia banyak rekan dan kolega, setelah gagal dalam usahanya, hampir semua rekan dan kolega yang dulu mendukungnya, menebar senyum ramahnya, bahkan mengajak bermitra, hilang sudah! Akibat cara pandang seperti ini, banyak wirausahawan yang traumatik terhadap kegagalan. Ini, “awal kematian” benih-benih kewirausahaan. Semua pihak harus mengubah sikapnya: doronglah masyarakat menjadi pihak yang turut membangun keberanian banyak orang untuk respek terhadap ikhtiar orang meraih keberhasilan dalam bisnis. Gagal atau keberhasilan, bukan menjadi satu-satunya alasan menghargai atau meremehkan wirausahawan. Tentu, sembari tetap mentransfer sikap-sikap arif, bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran berharga. Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga kegagalan.”

Kita perlu menggalakkan orang untuk berani mengambil resiko. Hal ini membutuhkan pola pikir yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti mengabaikan peraturan yang telah berlaku baik selama 30 tahun lebih.

Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura

Yang Diperlukan Untuk Menghadapi Kegagalan

  Ada banyak pembahasan tentang tips menghadapi kesuksesan. Tetapi bagi kami, sama pentingnya, menyiapkan sejumlah hal untuk menghadapi kegagalan! Billy P.S. Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di

Malaysia

, pernah menanyakan kepada peserta trainingnya tentang satu masalah menarik. ”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?”

Berbagai jawaban diberikan tetapi yang paling sering ialah ”Dia tak dapat berenang.” Yang hadir heran, karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang hadir mengira, Lim bercanda. Untuk menyakinkan mereka, Lim memberi contoh kejadian orang tenggelam di air sedalam tiga inci. Akhirnya, ia memberitahu jawabannya, yang akan ia berikan kepada Anda sekarang. Kami kutip pendapat Lim: ”Orang tenggelam karena dia menetap disitu dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

So? Berapa kali orang jatuh tak jadi soal. Yang penting kemampuannya untuk bangkit kembali setiap kali jatuh.

Ukurannya, Bangkit Lagi

Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan, mendengar bahwa banyak orang seperti mereka, setelah sekali dua kali gagal, memilih untuk menetap di situ dan akhirnya mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.

Apakah kualitas diri kita akan membantu bangkit kembali setelah kita terjatuh? Kualitas diri sendiri adalah sesuatu yang mesti saya sebutkan, karena kalau tidak, makna buku ini tidak sempuma.

”Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakatpun tidak; Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusanpun tidak; Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan. Pendidikanpun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya, ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dan batu, air sungai senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi dengan ketabahan. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering Anda bangkit kembali.

Apabila Anda dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, Anda dapat mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan Anda sekarang. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda. Seperti Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini menjawab,

”Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Sungai Coloradomengalir tabah terus-menerus, melahirkan Grand Canyon, Charles Goodyear yang tekun, membuahkan ban yang memungkinkan kendaraaan melaju kencang. Tabahnya Wright bersaudara membuahkan pesawat terbang. Bethoven, mengisi dunia dengan musik inspiratif, John Milton membuahkan karya puisi indah yang menyejukkan hati, perempuan tuna netra yang tegar Helen Keller, memberikan harapan kepada semua orang cacat, ketabahan Abraham Lincoln membuatnya terpilih menjadi presiden. Dan, tentu, Thomas Alfa Edison, memberi kita cahaya listrik. Kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan. Kurang tabah merupakan salah satu alasan orang gagal dalam bisnis, politik, dan kehidupan pribadi.

Setiap orang sukses menyatakan bahwa kesuksesan hanya berada di luar ketika mereka yakin idenya akan berhasil.”

Dr. Napoleon Hill

Menarik Hikmah, Jangan Menyerah

Anda tumbuh menjadi semakin dewasa dan bijaksana. Dulu Anda menanggung kegagalan secara pribadi. Ketika kulit Anda mulai berkerut sejalan dengan perjalanan usia, Anda cenderung belajar dari kesalahan - kesalahan Anda

Cheong Chonng Kong

Secara sederhana, kegagalan adalah situasi tak terduga yang menuntut transformasi dalam sesuatu yang positif. Jangan lupa bahwa Amerika Serikat merupakan hasil dari kegagalan total. Karena Columbus sebenarnya ingin mencari jalan keasia

Eugenio Barba.

Mengantisipasi bencana sejak dini, karakteristik seorang entrepreneur. Jangan biarkan kebanggaan dan sentimen mempengaruhi keputusan-keputusan Anda. Sebuah gagasan gagal, adalah pelajaran ada saat untuk bangkit kembali untuk mengejar target-target Anda berikutnya.

Babe Ruth, pemain baseball terkenal, tidak hanya mencetak 714 home run, namun dia juga pernah luput (strike out) 1330 kali.

Ray Meyer, pelatih bola basket legendaris di DePaul University telah memimpin timnya memenangkan 37 musim, kompetisi. Saat timnya kalah, setelah kemenangannya yang ke-29, dia ditanya bagaimana perasaannya. “Luar biasa!” katanya. “Sekarang kami dapat mengkonsentrasikan diri bagaimana memenangkan permainan daripada memikirkan kekalahan ini.”

Kegagalan, jangan biarkan sebagai sesuatu yang final. Entrepreneur sejati, memandang kegagalan sebagai awal, batu loncatan untuk memperbaharui kinerja bisnis mereka di masa mendatang. Pemimpin tidak menghabiskan waktunya memikirkan kegagalan.

Untuk memicu kesiapan mental Anda, kita belajar dari cerita tentang seorang eksekutif IBM yang memiliki prospek cerah. Ia baru saja melakukan kesalahan transaksi yang merugikan perusahaan jutaan dollar. Thomas J. Watson, pendiri IBM, memanggil eksekutif muda itu ke kantornya. Spontan eksekutif itu berkata.

“Saya tahu Anda pasti meminta saya mengundurkan diri, bukan?”

”Anda tidak perlu cemas. Kami baru saja mengeluarkan jutaan dolar untuk mendidik Anda!” Begitu jawab Watson.

***

Perusahaan seperti milik kami harus menciptakan suasana di mana orang-orang tidak takut mengalami kegagalan. Ini berarti kami menciptakan sebuah organisasi dimana kegagalan tidak hanya ditoleri tetapi ketakutan dikritik karena menyampaikan gagasan bodoh juga dihilangkan. Jika tidak, maka banyak orang yang merasa cemas dan tidak nyaman. Dan gagasan-gagasan brilian yang sangat potensial tak akan pemah terucapkan dan tak akan pemah terdengar. Kegagalan masih bisa ditolerir selama itu tidak menjadi kebiasaan.

Michael Eisner, Walt Disney Corp.

Jadi? Ya, gagal bukan kiamat bisnis, tapi jangan kelewatan. Apalagi menjadi “kebiasaan”. Kerjakan yang mampu dilakukan, semakin terbatas sumber dana, Anda patut semakin bijaksana. fahami, kapan harus meminimalisasi kerugian.

Bila Jatuh, Cepatlah Bangkit

Di dunia kerja, yang disebut masalah sesungguhnya adalah kesempatan yang menunggu, dipungut.

Henry J. Kaiser

Bagi saya pribadi, krisis Asia telah berakhir pada saat dimulainya persaingan untuk mendapatkan hotel Regent bangkok  pada bulan Maret 1999. Setelah melewati masa-masa sulit selama dua tahun sebelumnya, mendadak saya memutuskan mengikuti lomba balap Ferari di Perancis serta bersaing di ring dengan Goldman Sachs Co., salah satu bank investasi terbesar dunia.

William E. Heinecke, konglomerat Thailand

Pembaca, saat banyak konglomerat bangkrut dan bank-bank mengalami kegagalan di Thailand, tujuh hotel milik Heinecke, restoran siap saji dan perusahaan lainnya terus berusaha keras keluar dari krisis serta berusaha mendulang keuntungan di tahun 1998. Meskipun banyak analis meramalkan tentang pertumbuhan ekonomi pada tahun 1999 dan menguji Baht Thailand, tidak banyak perusahaan yang bisa menandingi kemampuan kerja kelompok bisnis Heinceke.

Fantastis, hotel Heinecke mengalami kenaikan 24%, 246 restoran kelompok bisnisnya menarik lebih dari tak kurang dari

lima

juta pelanggan! Pada tahun 1997 kelompok perusahaan Heineke mengalami kerugian 1 milyar baht, tetapi setahun kemudian tiga perusahaannya yang telah go public, mendapatkan keuntungan bersih 500 juta baht, pada triwulan pertama tahun 1999, keuntungannya lebih banyak lagi.

Belum yakin, kegagalan, hanyalah sebuah tikungan tajam yang menuntut ”kendaraan” usaha, sedikit mengurangi kecepatan, lalu di depan, begitu melihat ”jalan mulus peluang”, Anda bisa menebusnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bisnis Heinecke di Thailand, saat ini benar-benar telah pulih.

Regent Bangkok, salah satu hotel terbesar di asia , tingkat huniannya tetap tinggi. Saat itu, Regent di bawah kontrol beberapa perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan manajerial seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya di sehingga mereka berusaha untuk menjual saham Regent. Regent dimiliki oleh Rajadamri Hotel Company yang kemudian 32% sahamnya dimiliki oleh sebuah perusahaan Jepang yang telah bangkrut yang diwakili oleh sebuah bank Jepang yang cukup besar.

Masih ada lagi faktor lain yang lebih penting. Rajadamri Hotel Company juga memiliki 26% saham hotel bintang lima milik Heinecke, di Thailand Utara, Regent Chiang Mai. Heineke enggan menjualnya pada orang asing karena ia tak ingin ada orang asing menguasai tanah keramat itu. Bagi Heinecke, ikut ambil bagian dalam kepemilikan saham Regent Bangkok yang dijual pada awal tahun 1999 merupakan tindakan yang tepat, setelah sebelumnya ia sudah memiliki saham Regent hampir 29%.

Apa kata Heineke tentang pelintasan bisnisnya yang penuh tikungan di masa krisis ini?

“Ini adalah persaingan dimana saya harus mengeluarkan segala strategi dan kemampuan yang telah saya pelajari : mempercayai intuisi, menggunakan jaringan kerja kontrak yang mapan, menggunakan sejumlah pakar dan merencanakan strategi-strategi dalam situasi yang selalu berubah cepat jika diperhatikan, persaingan ini merupakan mikrokosmos semua strategi. Saya berusaha menguji kemampuan saya dengan lawan-lawan yang benar-benar tangguh. Goldman Sachs, salah satu grup investasi terkuat di dunia ini, merupakan pemegang saham individu terbesar Regent Bangkok, tapi itu tidak berarti bahwa mereka bisa berbuat sesuka hatinya. Saya kira bagi seorang yang tidak lulus perguruan tinggi, hasil seperti ini sudah cukup memuaskan”.

Bila Semuanya Gagal

Tekun, mengerahkan segenap daya, dan masih gagal juga. Apa yang harus kita lakukan?

Saat gagal menimpa, kendati lelah dan kecewa berat, jangan matikan energi kreatif Anda. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk yang ada, atau hasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan.

Jangan terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut.

Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat daripada yang lain. Sebagian kurang berisiko tetapi lebih lambat daripada yang lain.

Saran kami, janganlah terlalu kaku mengatakan bahwa Anda tidak bisa berubah. Kami sendiri, kerap berubah seiring dengan perkembangan in put dan stimulasi kondisi di sekitar kami. Tanpa itu, bagaimana mungkin kami menyusun sebuah buku, memberi pencerahan bagi banyak orang?

Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan dan kita mesti menyesuaikan segala keterampilan dan bakat yang tidak kita peroleh dari bidang-bidang usaha di masa lalu. Lalu? Salurkan kekuatan itu di bidang usaha yang baru. Mungkin, kita dipaksa mempelajari keterampilan baru, sebagai konsekuensi menghadapi tantangan serba-baru itu.

Pernahkah Anda bertanya bagaimana orang Jepang bangkit kembali dari kehancuran PD II untuk menjadi pengusaha ekonomi yang unggul saat ini? Dulu, produk Jepang sempat dinilai murahan, tidak berkualitas, dan stigma jelek lainnya. Tapi sekarang, sulit bagi kita untuk hidup tanpa barang-barang buatan Jepang di dalam rumah kita. Ini tidak hanya berlaku di Negara kita saja, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Orang-orang Jepang tidak menciptakan mobil. Tidak juga kamera, kulkas, televisi, AC, mesin cuci, penghisap debu, film atau system perangkat audio berkualitas tinggi. Mereka tidak menciptakan banyak benda. padahal yang mereka lakukan ”hanyalah” meniru.

Hakikat :peniruan ala Jepang”, sarat pesan penting bagi calon entrepeneur. Di

sana

ada proses penyempumaan tanpa kenal lelah, sampai akhirnya ”tiruannya” lebih baik dari aslinya! Mereka menggunakan ”kreativitas” untuk menyempumakan barang yang sudah ada. Tak ada yang membantah, Jepang meraih suksesnya. Kultur entrepreneurship tumbuh subur di

sana

, menyebar menguasai dunia.

Jika Anda menyadari bahwa Anda tidak berhasil mencapai tujuan Anda pada suatu pekerjaan di mana Anda telah dilatih untuk melakukannya, latihlah atau lengkapi diri Anda dengan pekerjaan yang memberi peluang meraih yang lebih baik di masa depan. Janganlah gantungkan diri Anda pada satu keterampilan saja. Sebagai manusia, Tuhan memberi kita kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru dan menerjuni bidang usaha lain. Jangan ”hidup-mati” Anda gantungkan pada satu bidang saja. Orang lain bisa sukses. Anda tentu juga bisa. hanya saja, ada yang lekas tercapai, ada yang masih berliku.

”Jangan malu karena gagal, …seperti Christopher Colombus.”

Ketahuilah apa yang akan Anda lakukan, lakukanlah dan jangan menunda kembali. Jika Anda membuat kesalahan, buatlah kesalahan yang hebat. Seperti orang yang sampai di persimpangan jalan dan bertanya,”Arah manakah yang perlu saya tuju, arah

sana

atau sini?” Pergi saja! Pilih satu arah dan pergilah. Unsur masa itu pasti ada. Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempat yang wajar.”

Gum Rutt

  Tengok kiri-kanan Anda. Produk Cina, membanjiri negeri ini. Bayangkan, seperti apa sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang? Akankah ini kita terima sebagai ”keharusan ekonomi”? Tidakkah Anda mulai berpikir hal yang sebaliknya? Anda bisa!
                            

December 07, 2007

Qolbu salim

Macam-macam Penyakit Hati dan terapinya

Pendahuluan.
 

Penyimpangan hati bisa diartikan berpalingnya hati dari nilai fitrah dan nilai kebenaran sehingga terjadilah pergolakan yang mengarah pada rusaknya pola pemikiran manusia dan menjauh dari yang Maha Kuasa. Penyimpangan dan pemberontakan manusia terhadap perintah Allah dan rasulnya termasuk bagian dari penyakit manusia berabad-abad diperjuangkan dan didakwahi para Nabiyullah dan berlangsung sampai sekarang dimana dikatakan peradaban manusia semakin terus berkembang, namun penyimpangan hati manusia semakin tak terkontrol manakala peran agama semakin dijauhi sehingga penyimpangan itu bertahan seperti borok-borok kronis yang sulit disembuhkan Penyimpangan hati berkaitan dengan ruh, nafsu dan akal manusia yang terkontaminasi iblis yang bersemayam dalam bungkusan peradaban, modernisasi, reformasi dan kemajuan manusia. Sehingga yang nampak adalah segi kemanusiaannya melupakan segi keilahiyannya dan mengumbar nafsu sebagaimana yang dilakukan kaum yahudi, penyimpangan ini yang kerap kali dimaknai sebagai prilaku jahiliah.

Gambaran hati manusia dan penyimpangannya.

Rasulullah SAW memperumpamakan hati seperti bulu-bulu ditengah lapang yang diihembus angin (sehingga beterbangan) yang membahayakan perut. (Dari Kitab Syarhus Sunnah, diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Dalam hadits lain beliaupun bersabda “Tiada hati melainkan memiliki semacam awan yang menyelimuti rembulan.ketika tidak terhalang ia memancarkan sinarnya, ketika awan datang ia menjadi gelap.” (Dikeluarkan Imam At-Tabrani dalam kitab Al- Ausath dan dihasankan oleh Imam Al-Albani).

Lebih lanjut Rasulullah bersabda : “ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh”

Ibnu Qoyim Al-Jauziah mengungkapkan hati :

Ketahuilah sesungguhnya seeorang hamba menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan tekad bajanya dan bukan dengan fisiknya. Hakikat takwa adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan” (Abdul Karim bin Abdul Majid Ad-Diwan, Assirrul maknun fi riqqotil qulub wa da’il ‘uyun)

Lebih lanjut, bahwa “sesungguhnya dalam hati terdapat ruang kosong dan celah yang tak dapat diisi oleh sesuatupun kecuali Allah. Terdapat penyakit yang tidak dapat disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan beribadah hanya kepada-Nya. Fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa hati merupakan penyebab sakit hati, yaitu fitnah syahwat, sikap menyimpang, maksiat-naksiat dan kedzaliman. Juga fitnah subhat, kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada rusaknya niat dan tujuan, seadangkan fitnah kedua yang berakibat rusaknya ilmu seseorang serta aqidahnya”
 Jenis hati 

Ibnu Qoyim dalam bukunya “Mawaridul aman al-muntaqa min ighotsatul lahfan fi mashayidisy syaithon “(2004: 1-6) membagi hati menjadi 3 yaitu

a). Hati yang sehat: hati yang selalu menerima, mencintai dan mendahulukan kebenaran; hati yang selamat dari syahwat yang menyalahi Allah dan rasul-Nya, bersih dari berbagai subhat yang bertentangan dengan beritanya; dan hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alas an apapun.

b). Hati yang mati : hati yang tidak menerima kebenaran dan tidak taat pada kebenaran; hati yang tidak mengetahui Allah bahkan untuk menyembah-Nya; hati yang didominasi hawa nafsu sebagai komandannya walaupun harus dimurkai dan dibenci Allah

2:10c). Hati yang sakit : hati yang hidup tapi cacat, terkadang menerima kebenaran ketika bisa mengalahkan penyakitnya tapi terkadang menolak kebenaran saat penyakitnya kambuh. Al-Qur’an menggambarkan hati sakit bahwa : Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. ), agar dia menjadikan apa yang dimasukan oleh syetan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit (Al-Haj : 53)

Jenis penyakit hati

Penyakit hati ada dua macam : Pertama, orang yang bersangkutan seketika itu tidak merasakan sakit apapun, karena penyakit ini manusia tidak merasakan apa-apa karena hati telah rusak dan apa yang dirasakannya sebagai sebuah kebenaran dan hal yang yang dianggap fitroh, inilah jenis penyakit terdahulu, seperti penyakit kebodohan, syubhat, keraguan dan penyakit syahwat kedua, penyakit yang menimbulkan sakit seketika, seperti sedih, gundah, resah dan marah, prustasi.

Dari 2 jenis penyakit ini bisa diikhtisarkan penyakit hati sebagai berikut :

1. Waswas

2. Berlebihan (Isrof)

3. Bersandar pada akal

4. taklid dan fanatisme buta

5. Menganggap baik perbuatan bid’ah dan munkar

6. Menganggap diri mulia dan meremehkan manusia lain.

7. Mengasingkan diri dari manusia

8. Merasa yang paling benar dan menolak kebenaran, kritikan dan masukan yang berasal dari orang lain.

9. Sedih berlebihan sehingga mudah frustasi dan bergembira berlebihan.

10. Sering gelisah dan rendah diri sehingga mudah marah

11. Penyimpangan syahwat, dll.

Terapi hati

Ada beberapa terapi menyembuhkan penyakit hati; Penyakit hati yang sering menggangu manusia dapat diuraikan sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Qur’an adalah

a). Selalu menata hati

Penyakit fisik maupun rohani dalam penyembuhannya membutuhkan waktu dan kesadaran pribadi akan sifat-sifat yang dianggap penghambat hati untuk bertaqorub pada Allah dan beramal ma’ruf pada manusia salah satunya dengan menata hati : 1). Muhasabah, 2). Bertaubat dan meninggalkan perbuatan serta penyimpangan hati, 3). Mencari dan menguatkan kebenaran dengan mengkaji  ilmu Allah, kurangi amalan bid’ah, tahayul dan khurofat 4) Menguatkan niat dan keikhlasan dan terakhir 5). Hati diasah dengan tarbiyah.

b) Selalu memperindah dan Melembutkan hati.

Memperindah hati dan melembutkan hati dengan ibadah secara berkelanjutan seperti : 1). Membiasakan diri membaca Al-Qur’an untuk menghaluskan lidah 2). Rajin shalat malam untuk melembutkan hati kita 3). Rajin shaum sunnah untuk melengkapi kelembutan perut kita 4) membiasakan diri shalat duha 5) Rajin bergaul dengan orang sholeh dalam rangka mengkaji keagamaan. 6). Mempertahankan hijab (tabaruz, Ghodwul bashor, ihtilat, dan kholwat) dengan lawan jenis untuk menutupi celah-celah syahwat 7). Membiasakan shalat berjamaah di mesjid. 8). Mengurangi membaca, menonton dan mencoba-coba media-media (Bacaan porno, VCD, tayangan TV) yang bisa mematikan hati.

c) Menghidupkan hati nurani. 

Hati butuh diasah dengan : 1). Belajar mempertahankan prinsip kebenaran 2). Belajar berempati pada penderitaan orang lain. 3). Berani mengakui kesalahan dan kritis mengungkapkan kebenaran walau dilemma dan menyulitkan 4). Menghidupkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan 5) bergurulah dengan orang sholeh dengan sering membaca biografi-nya. 6) carilah seorang pembimbing yang bisa diajak ‘curhat’ kalau kita punya masalah spiritual dan pribadi yang berat 7) melaksanakan amalan kecil secara konsisten 8) tarbiyahkan pribadi kita dalam majlis ilmu dan forum diskusi.

d). Memelihara dan menjaga hati.

Tidak hal yang paling sulit adalah menjaga ketetapan hati yang sudah terpelihara oleh nilai-nilai ilahiyah adalah 1). Niat dan keikhlasan 2). Menjaga komitmen 3). Menjaga pandangan, pendengaran dan lidah dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama. 4). Mempertahankan fikrah/pola fakir yang lurus yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah rasul.

5). Sering menghitung dosa-dosa dan disegerakan bertaubat.

 

Demikianlah terapi sederhana penyakit hati dan tentu membutuhkan adanya keberanian dan jelas butuh adanya reformasi diri dengan memahami bahwa semua penyakit hati akan menjadi pengahlang kita untuk mendekatkan diri pada Allah. Wallahu ‘alam bishowab.

December 05, 2007

Beyond Top-of-Mind

A number of clients questioned me on why their products have low sales levels while research show that consumers are most familiar with their products. Why is there some sort of discontinuity between top-of-mind awareness and purchase decision? For me the answer would be simple enough: There is actually no direct connectivity between top-of-mind and purchase decision. Top-of-mind only demonstrates how familiar the respondents are to a certain product. Whether they will actually buy it or not is a different matter altogether. Such case happens because top-of-mind evaluation is conducted through quantitative research while consumer reasoning that form the base of purchase decisions can only be analyzed through qualitative research. Thus in reality, quantitative research results can only skim the surface and not actually capture insights from respondents or consumers. Therefore, as I’ve explained in a past article in this column, starting a few years back we’ve been trying to concentrate more in qualitative research. We believe the result of qualitative research will be more beneficial to companies and can act as the basis of determination of competitiveness excellence. Now I will re-elaborate qualitative research. In qualitative research, there exists such premise: “What counts is what cannot be counted”. Thus, in qualitative research what is of importance is not the percentage of top-of-mind, for example, but factors that influence the respondents’ decisions – especially subconsciously. These results will help companies understand consumers better and consequently create better products, better service, and more effective advertising. We should bear in mind that respondents are not conditioned to thinking deeply about the reasons they buy/don’t buy or like/don’t like a certain product, service, or advertisement. Probably they would quickly respond to direct questions such as “How often do you shop for baby formula?” but tend to keep silent or have difficulties in giving an answer clearly when asked more abstract questions like “By feeding your child this particular baby formula, what would you expect from him/her when he/she grows up?” To capture such things, a number of tools and techniques are needed to help respondents access what forms the base of their rational reasoning of an issue or a topic. Other than by using VenuSight®, as I’ve written before, we can also utilize focus group discussions (FGD). Most importantly, respondents must have the freedom to express their deepest thoughts without feeling that they are being questioned or interrogated like crime suspects in a police station. The most common technique used is called “projection”. In short, this means letting respondents externally talk about internal subjects. The respondents talk about subject external to them, when these subjects are actually a representative of their inner or deepest thoughts. This method makes them more open since they don’t feel shy, anxious, or responsible of their opinions. For instance an FGD is conducted with a client of an automotive company. The FGD moderator is free to come up with a scenario that enables the respondents to openly express their opinion around strangers, in this case other FGD respondents in the room. A sample of such scenario would be a fictional story about a family that consists of a father, a mother, a son, two daughters, and a grandfather. The son will be graduating from his Bachelor’s program next month. Both parents have agreed to buy a car as graduation gift for their son but they have yet to pick a model. Now the respondents in the mentioned FGD are asked to do a role play and act as characters of this fictional family. They can openly express their opinions on what brand and model of car they should get for the son. Respondents have to keep in mind that the opinions they express are not their personal opinions, but rather opinions of the characters that they are taking the role of. I’m sure that a lively discussion will ensue. Although the respondents would maybe try to ensure that what they’re expressing aren’t personal opinions, but certainly the opinions are based on their personal experiences. This way more honest answers and a deeper insight may be revealed compared to asking them whether they like a certain model of car. The result of such qualitative research will definitely be more beneficial than just a top-of-mind number that only contributes to false pride.

By and refrence :Investor Daily, 26 April 2007,Hasanuddin Research Manager, MarkPlus Insight E-mail: hasanuddin@markplusnco.com

December 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

Recent Comments